Maos, 11 Juni 2026 – Dalam upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap praktik manajemen keluarga dan kepengasuhan di masyarakat, empat mahasiswa Semester VI Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap melaksanakan observasi lapangan di Kantor Urusan Agama (KUA) Maos, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Manajemen Keluarga dan Kepengasuhan yang diampu oleh Heny Kristiana Rahmawati, M.Pd.I. ini diikuti oleh Rahma Layda Sarah Sabrina, Bagas Gumilang, Wahyu Sentriana, dan Zidan Bahrul Fawaid. Melalui observasi tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar secara langsung mengenai pengelolaan keluarga, pola relasi suami istri, hingga strategi membangun keluarga yang harmonis dan sejahtera.
Pada sesi pertama, mahasiswa memperoleh materi dari Bapak Suyatno yang mengupas konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Ia menegaskan bahwa fondasi utama keluarga harmonis terletak pada keimanan yang kuat, rasa saling mencintai, serta komitmen untuk menjauhi segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, pasangan suami istri juga perlu menjaga kualitas ibadah, menjunjung tinggi kejujuran, kesetiaan, dan ketakwaan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Lebih lanjut, Bapak Suyatno menjelaskan pentingnya kemampuan manajemen keluarga, mulai dari perencanaan kehidupan pasca pernikahan, pengelolaan perilaku, hubungan sosial, hingga pengaturan keuangan keluarga. Menurutnya, keterbukaan dan komunikasi yang jujur menjadi kunci utama untuk mencegah kesalahpahaman dan menjaga keharmonisan hubungan pasangan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Ibu Nur yang menggambarkan keluarga sebagai sebuah pohon yang memerlukan perhatian, perawatan, dan komitmen secara berkelanjutan agar dapat tumbuh kuat dan memberikan manfaat. Ia menekankan bahwa suami dan istri harus mampu saling melengkapi, menghargai, serta memberikan dukungan satu sama lain.

Menurutnya, bentuk penghargaan sederhana seperti memberikan pujian, ungkapan terima kasih, atau panggilan yang penuh kasih sayang dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar dalam menjaga kehangatan hubungan keluarga. Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga sikap saling menerima dan memahami menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Dalam menyelesaikan konflik keluarga, pasangan dianjurkan untuk mengedepankan musyawarah dan menghindari kebiasaan mengumbar masalah pribadi di media sosial.
Sementara itu, pada sesi terakhir, Bapak Juwadir menyoroti pentingnya membangun keluarga sakinah di tengah meningkatnya berbagai persoalan rumah tangga yang terjadi di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pernikahan merupakan ibadah sekaligus amanah yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, seorang suami berkewajiban memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan seorang istri perlu memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan rumah tangga secara bijaksana. Selain itu, pasangan juga harus membekali diri dengan ilmu agama, memahami hak dan kewajiban masing-masing, serta memiliki wawasan mengenai pola asuh dan pendidikan anak.
“Kerja sama yang baik, kemampuan saling mendengarkan, serta keterbukaan dalam memberikan masukan menjadi faktor penting untuk menjaga keharmonisan keluarga,” jelasnya.
Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata mengenai praktik pembinaan keluarga yang dilakukan oleh KUA. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa BK UNUGHA, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam peran profesional mereka sebagai calon konselor yang akan mendampingi masyarakat dalam mewujudkan keluarga yang sehat, harmonis, dan sejahtera. terakhir dilakukan foto bersama sebagai dokumentasi kegiatan.
oleh : Rahma Layda Sarah Sabrina
Publish : Bag Humas dan Publikasi
Editor : Bangkit Jauhari, S.Kom














