CILACAP – Selasa 07 Oktober 2025: Konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) kini menjadi sorotan baru dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya di Kabupaten Cilacap. Melalui kegiatan bertema “Menjaga Harmoni dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika”, para pendidik, mahasiswa, dan tokoh akademik diajak untuk menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, serta empati dalam proses pembelajaran di kampus.
Narasumber dalam kegiatan ini adalah kepala kemenag, Ketua FKUB dan KH. Ahmad Tohari seorang Tokoh Ulama, budayawan, dan sastrawan besar asal Banyumas, Jawa Tengah, yang dikenal luas melalui karya-karya sastra bernuansa religius dan humanistik, terutama trilogi novel “Ronggeng Dukuh Paruk. adapun modetator yakni Kyai Khazam Bisri dari PCNU Cilacap.
Dalam kegiatan ini, Fahrur Rozi, M.Hum, Ketua FKUB, juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap sekaligus Dosen UNUGHA Cilacap, beliau menegaskan bahwa pendidikan berbasis cinta bukan sekadar teori, melainkan sebuah gerakan untuk membangun karakter mahasiswa yang berjiwa damai, berempati, dan berakhlak mulia.

Menurut Fahrur Rozi, cinta dalam konteks pendidikan tidak terbatas pada hubungan antarindividu, tetapi mencakup cinta terhadap ilmu, bangsa, lingkungan, dan sesama manusia. “Kurikulum Berbasis Cinta ini menjadi strategi penting untuk memperkuat nilai kebangsaan, menumbuhkan empati sosial, serta menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat Cilacap,” ujarnya.
Kegiatan ini disambut antusias oleh para peserta (100 mahasiswa yang berasal dari 6 perguruan tinggi di Cilacap salah satunya mahasiswa UNUGHA Cilacap). Mereka menilai bahwa KBC sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang memperkaya kehidupan sosial dan budaya di kampus maupun masyarakat.

Selain itu, Kurikulum Berbasis Cinta juga mendorong integrasi antara kecerdasan intelektual dan emosional. Mahasiswa diharapkan tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan memahami dan menghargai perasaan orang lain. Pendekatan ini dinilai relevan dengan tantangan era digital yang seringkali menimbulkan jarak sosial dan empati antar individu.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga berdiskusi mengenai penerapan nilai cinta dalam kegiatan akademik dan sosial kampus, seperti melalui pengabdian kepada masyarakat, pembelajaran kolaboratif, serta kegiatan lintas budaya dan agama. Semua itu bertujuan untuk memperkuat kohesi sosial di lingkungan mahasiswa yang multikultural.
Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun generasi muda yang cinta ilmu, cinta tanah air, dan cinta kemanusiaan. Melalui pendidikan yang menumbuhkan kasih dan kepedulian, Cilacap diharapkan menjadi contoh daerah yang mampu menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Arief Septyady














