Banyumas – Sebanyak 32 mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap melaksanakan studi lapangan ke UPT TPST BLE Banyumas pada Senin, 26 Mei 2025. Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi serta menjadi sarana untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai pengelolaan sampah terpadu yang bernilai ekonomi
Dengan mengangkat tema “Valuasi Ekonomi Pengelolaan Sampah Sebagai Strategi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dan Tantangan di Era Ekonomi Sirkular”, mahasiswa semester 2, 4, dan 6 yang didampingi oleh dua dosen dan Asistennya, yakni Bapak Rahmat AlHakim, M.E. dan Bapak Verry, M.Kom. dan asistenya bapak Dino, dalam proses itu semunya diajak langsung menyaksikan proses pengolahan sampah mulai dari pemilahan, daur ulang, hingga produksi barang bernilai jual.
UPT TPST BLE Banyumas yang mulai beroperasi sejak tahun 2021 merupakan transformasi dari tempat pembuangan akhir (TPA) yang sebelumnya menuai protes dari warga sekitar akibat penumpukan sampah. Inisiatif pendirian TPST ini diprakarsai oleh Bupati Banyumas kala itu, Bapak Achmad Husein, sebagai respons atas permasalahan lingkungan dan sosial yang serius.
Dalam pemaparannya, pengelola TPST BLE menjelaskan bahwa sampah dipilah menjadi organik dan non-organik. Sampah organik diolah menjadi biomassa, pupuk, pakan magot, dan bahan bakar padat (BBJP) untuk PLTU. Sementara itu, sampah non-organik seperti plastik, pakaian bekas, hingga kasur tua, diolah menjadi bahan RDF (Refuse Derived Fuel) yang dikirim ke PT Semen Bima dan BSI Cilacap. Target pengiriman RDF mencapai 60 ton per hari, namun realisasi masih terkendala cuaca.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga menyaksikan proses produksi paving block dan genteng plastik. Dengan bantuan mesin hot extruder dan mesin pres, sampah plastik dilelehkan dan dicetak menjadi produk yang awet, berkualitas, serta ramah lingkungan. Harga jual paving block mencapai Rp2.500 per buah, sementara genteng plastik dibanderol Rp3.000 per buah.
Kegiatan ini juga memperkenalkan budidaya magot dari lalat BSF (Black Soldier Fly) yang memanfaatkan bubur sampah sebagai pakan. Magot yang telah dewasa dikeringkan dan dijual seharga Rp5.000 per kilogram, memberikan peluang ekonomi tambahan dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tak hanya mempelajari sistem pengelolaan sampah yang modern dan efisien, tetapi juga memahami bagaimana pengelolaan sampah dapat memberi dampak positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Nilai ekonomi dari hasil pengolahan sampah disalurkan ke kas daerah, menjadikan TPST BLE sebagai salah satu inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang patut ditiru.
Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa dalam merancang solusi berkelanjutan untuk permasalahan lingkungan dan ekonomi. Di sisi lain, UPT TPST BLE Banyumas menunjukkan bahwa jika dikelola dengan tepat, sampah bukan lagi masalah, melainkan peluang besar dalam menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Oleh: Rahmat Alhakim
Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Bangkit Jauhari














