Cilacap – Kegiatan Rutinan Sema’an dan Kajian Tafsir Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh UKM GHAFI-Q UNUGHA Cilacap berlangsung dengan penuh khidmat pada Sabtu, 25 April 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Assegaf. Acara ini dihadiri oleh Pembina UKM GHAFI-Q, Ibu Minaty Umdatul Istiqomah, S.H., M.H., pemateri Bapak Mokhamad Ali Ridlo, S.Ag., D.E.S.A., serta seluruh panitia dan anggota UKM GHAFI-Q.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon yang menambah semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air. Suasana semakin hangat dengan sambutan dari pembina UKM, Ibu Minaty Umdatul Istiqomah, S.H., M.H. yang memberikan motivasi mendalam kepada para peserta.
Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menuntut ilmu secara berkelanjutan. Ia mengutip syair dari kitab Ta’lim al-Muta’allim, bahwa setiap hari hendaknya manusia menambah ilmu dan kebermanfaatan. Beliau mengibaratkan ilmu seperti air; jika diam, ia akan keruh, tetapi jika mengalir dan bermanfaat, maka akan menjadi jernih dan memberi kehidupan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus diamalkan dan dibagikan.
Memasuki inti acara, kajian tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Bapak Mokhamad Ali Ridlo berlangsung dengan penuh inspirasi. Dalam kajiannya, beliau mengangkat peran penting perempuan dalam kehidupan, dengan meneladani sosok R.A. Kartini yang baru saja diperingati. Kartini digambarkan sebagai perempuan visioner yang berani berpikir maju, sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an yang mendorong umatnya untuk terus berkembang dan tidak terkungkung oleh tradisi yang membatasi.
Beliau juga mengaitkan pemikiran Kartini dengan ayat Al-Qur’an, seperti pesan “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang selaras dengan QS. Al-Insyirah ayat 6, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Kisah Nabi Muhammad SAW yang menghadapi ujian berat, termasuk peristiwa fitnah terhadap Aisyah, menjadi pelajaran bahwa kesabaran dan keyakinan kepada Allah adalah kunci dalam menghadapi ujian hidup.
beliau menekankan bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mampu menundukkan hawa nafsu, sebagaimana terkandung dalam nilai-nilai Surah An-Nasr. Selain itu, disampaikan pula bahwa perempuan berilmu tidak akan mampu bertahan dalam keterbelakangan, karena ilmu akan membuka cakrawala berpikir dan mendorong perubahan menuju kebaikan.
Dalam kajian tersebut juga disampaikan kritik sosial yang relevan dengan kondisi saat ini, yakni fenomena penyalahgunaan agama untuk membenarkan perilaku menyimpang. Hal ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak terjebak dalam fanatisme buta, karena sikap fanatik dapat mengaburkan kebenaran. Agama sejatinya membawa manusia menjauhi dosa, bukan sebaliknya dijadikan pembenaran atas kesalahan.
pemateri juga menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya peran keluarga sebagai sumber kekuatan. Mengutip nasihat Luqmanul Hakim, disebutkan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak, namun tetap membutuhkan peran ayah sebagai pemimpin. Pesan inspiratif juga disampaikan agar generasi muda menjadi penghafal Al-Qur’an yang memiliki pola pikir maju seperti Kartini.
Acara kemudian ditutup dengan doa dan sesi dokumentasi. Kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan intelektual dan spiritual yang mampu membentuk generasi Qur’ani yang berilmu, kritis, dan berakhlak mulia.
Oleh: Sholihatunnajah
publish: Bagian Humas dan Publikasi
Editor: Bangkit Jauhari, S.Kom














