-Pematerian Medical First Responder (MFR)
Cilacap, 21 Mei 2025 – Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) IGHOPALA Universitas Nahdlatul Ulama (UNUGHA) Cilacap dengan penuh semangat dan tanggung jawab telah mengikuti kegiatan “Petualang Tanggap Bencana” yang diselenggarakan oleh MAPALA STAPALA Institut Bakti Nusantara Tegal, bertempat di kawasan wisata alam Waduk Cacaban, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Kegiatan ini merupakan bentuk pembinaan dan pengembangan kapasitas relawan muda di bidang kebencanaan, penyelamatan, dan ketangguhan mental, yang dikemas dalam bentuk petualangan edukatif berbasis outdoor learning. Kami merasa bangga dapat berpartisipasi sebagai delegasi peserta, sekaligus menjadi bagian dari gerakan mahasiswa pecinta alam yang tidak hanya cinta akan alam itu sendiri, tetapi juga peduli terhadap keselamatan manusia di tengah berbagai risiko bencana yang mengintai.
Hari Pertama: Memulai Langkah dengan Ilmu dan Semangat
Perjalanan kami dimulai sejak pagi hari menuju lokasi kegiatan. Sesampainya di area wisata Waduk Cacaban, suasana langsung terasa hidup. Udara yang sejuk, lanskap danau yang luas, serta lingkungan alami yang masih lestari memberikan kesan kuat bahwa kegiatan ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Pukul 13.00 WIB, kami bersama peserta lain mulai melakukan registrasi dan pengkondisian peserta. Suasana akrab mulai terbangun di antara peserta lintas organisasi dan kampus. Tepat pukul 14.30 WIB, kegiatan resmi dibuka dengan Upacara Pembukaan yang berlangsung penuh semangat. Dalam sambutan pembukaan, disampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membentuk karakter generasi muda yang tangguh, tanggap, dan siap berkontribusi dalam penanggulangan bencana.
Usai upacara, kami langsung mengikuti rangkaian materi pembekalan yang dibawakan oleh narasumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal. Sebelum memulai pemateriaan kami melaksanakan pre test yg kemudian dilanjutkan dengan materi. Materi Pertama adalah Medical First Responder (MFR), di mana kami belajar tentang langkah-langkah pertolongan pertama yang harus diberikan kepada korban bencana sebelum tenaga medis tiba. Dari pengecekan kesadaran, penanganan luka, hingga teknik pembidaian, semua dijelaskan dengan praktik langsung yang membuat kami sadar betapa berharganya detik-detik pertama dalam penyelamatan jiwa.
Setelah rangkaian materi, kami memasuki waktu ishoma di area camp, lalu malam harinya digelar Talk Show Potensi SAR yang menghadirkan Abah Soni Ozz Takariyadi Wanadri seorang Pakar dan Pratisi Survival Indonesia sebagai guest star utamanya.

-Talk Show bersama Abah Soni Ozz
Talk show ini sangat membangkitkan motivasi kami, karena menampilkan kisah nyata dari medan operasi, keberanian relawan di tengah medan yang berat, dan pentingnya kerja sama tim dalam penyelamatan.
Malam ditutup dengan kegiatan hiburan santai, yang dikemas dengan suasana kekeluargaan. Kami berbagi cerita, menyanyi bersama, dan mempererat ikatan antar peserta. Malam itu, di bawah taburan bintang Waduk Cacaban, kami merenungkan bahwa dunia relawan bukan hanya tentang aksi, tetapi juga hati dan niat yang lurus.
Hari Kedua: Terjun Langsung ke Simulasi Nyata
Minggu pagi dimulai dengan sarapan bersama yang kami siapkan bersama. Nilai kebersamaan benar-benar terasa dalam setiap aktivitas — kami belajar untuk saling membantu, saling menjaga, dan saling menyemangati.
-Simulasi ESAR (Evacuation Search and Rescue)
Pukul 07.00 WIB dimulai materi pertama yaitu Kerelawanan, yang mengangkat nilai dasar menjadi seorang relawan: bekerja tanpa pamrih, dengan hati yang tulus, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama manusia. Materi ini membuka cakrawala kami bahwa menjadi relawan bukan sekadar ikut membantu, melainkan sebuah pilihan hidup yang mulia dan bertanggung jawab.

Materi kedua adalah Radio Komunikasi, yang sangat teknis dan krusial dalam situasi darurat. Kami diperkenalkan pada jenis-jenis alat komunikasi yang digunakan saat jaringan putus, serta cara menggunakan istilah radio yang tepat dan singkat. Komunikasi yang efektif dan cepat adalah nyawa dari koordinasi dalam operasi SAR, dan hal ini benar-benar kami rasakan pentingnya saat sesi praktik.
Tibalah pada sesi paling dinanti yaitu Materi dan Simulasi ESAR (Evacuation Search and Rescue). Dalam sesi ini, kami dilatih untuk melakukan evakuasi korban bencana secara teknis dan tepat. Medan yang digunakan adalah area hutan dan perbukitan di sekitar Waduk Cacaban. Kami dibagi dalam tim kecil, dibekali skenario, dan diminta mengevakuasi “korban” dengan berbagai kondisi luka dan rintangan alam.

Saat itu, semua materi hari sebelumnya benar-benar diuji. Kami harus berkomunikasi dengan baik, menenangkan korban, menangani luka, lalu mengevakuasi mereka melalui jalur sulit. Ada tim yang membawa tandu melalui medan curam, ada yang memberikan pertolongan di lokasi, dan ada pula yang bertugas menjaga komunikasi lintas tim.
Simulasi ini sangat nyata dan emosional. Kami bisa merasakan tekanan, urgensi, dan pentingnya kerja sama yang solid. Ketika “korban” berhasil dievakuasi dan dibawa ke titik aman, ada rasa haru dan bangga dalam diri kami bahwa kami mampu, bahwa kami siap, dan bahwa kami belajar sesuatu yang sangat berharga.
Simulasi berakhir dengan evaluasi dan sharing dari instruktur. Banyak pembelajaran yang kami ambil mulai dari pentingnya ketenangan, kecepatan berpikir, sampai hal-hal kecil seperti pembagian tugas yang jelas dan disiplin waktu.
Pukul 16.00 WIB, kegiatan ditutup secara resmi dalam Upacara Penutupan, diiringi rasa lelah bercampur syukur dan kepuasan. Satu per satu kami berpamitan, saling berjabat tangan, dan mengucapkan terima kasih atas pengalaman luar biasa yang diberikan.
Refleksi: Dari Alam untuk Kemanusiaan
Kegiatan “Petualang Tanggap Bencana” bukanlah sekadar agenda pelatihan rutin. Ia adalah laboratorium kehidupan. Kami tidak hanya diajak belajar, tetapi juga dibentuk. Kami tidak hanya dilatih, tetapi juga ditumbuhkan. Setiap langkah kami di Waduk Cacaban adalah bagian dari pembentukan karakter – menjadi pribadi yang selalu tanggap, sigap, dan peduli pada keselamatan bersama.
Sebagai peserta dari KMIPA IGHOPALA, kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada:
• MAPALA STAPALA IBN Tegal selaku penyelenggara yang telah merancang kegiatan dengan profesional dan penuh kepedulian,
• BPBD Kabupaten Tegal yang telah memberikan ilmu dan arahan nyata di lapangan,
• Pengelola Wisata Waduk Cacaban yang menyediakan tempat yang mendukung kegiatan lapangan,
• Serta seluruh peserta dari berbagai organisasi yang telah menjalin persaudaraan dan kolaborasi yang kuat.
Oleh: UKM KMPA IGHOPALA
Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Bangkit Jauhari














