Cilacap – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter siswa, SMA Negeri 1 Sampang bekerja sama dengan mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap melaksanakan serangkaian kegiatan psikoedukasi untuk mengidentifikasi dan menangani permasalahan adiksi, khususnya kecanduan game online pada siswa laki-laki.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tiga mahasiswa, yakni Annisa Kamal, Hanif Ash’yar Prasetyo, dan Hasan Maskur, di bawah bimbingan dosen pengampu Ibu Heny Kristiana Rahmawati, M.Pd.I. Proses observasi dan wawancara dilaksanakan pada 11 April 2025, diikuti oleh pembagian angket kepada siswa pada 14 April 2025, dan puncaknya adalah pelaksanaan psikoedukasi yang digelar pada 17 April 2025. SMA N 1 Sampang, yang berlokasi di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, merupakan sekolah unggulan dengan fasilitas lengkap dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Meskipun mayoritas siswanya adalah perempuan, hasil observasi menunjukkan adanya tantangan serius terkait adiksi game online yang dominan terjadi pada kelompok siswa laki-laki.

Menurut hasil wawancara dengan salah satu guru, siswa laki-laki yang jumlahnya sedikit di sekolah ini cenderung membentuk kelompok kecil yang erat dan eksklusif. Mereka banyak menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bermain game online seperti Mobile Legends, PUBG, dan Free Fire. Kegiatan ini menjadi semacam simbol kekompakan dalam komunitas kecil mereka. “Anak-anak laki-laki memang lebih suka bermain game sepulang sekolah. Itu membuat mereka lebih dekat satu sama lain, tapi kami mulai melihat penurunan disiplin dan semangat belajar mereka,” ujar seorang guru SMA N 1 Sampang.

Dari hasil angket yang dibagikan, teridentifikasi tiga masalah utama akibat adiksi game online, yaitu penurunan fokus belajar, terbatasnya interaksi sosial di luar kelompok game, dan rendahnya kesadaran diri terhadap dampak negatif kebiasaan tersebut. Sayangnya, penanganan dari pihak sekolah masih belum maksimal. Tidak terdapat kebijakan khusus yang menangani masalah adiksi game secara spesifik. Upaya yang dilakukan lebih bersifat umum dan belum menyentuh akar permasalahan. Kegiatan psikoedukasi yang dilaksanakan mahasiswa menjadi salah satu bentuk intervensi awal yang penting.

“Sekolah sangat terbuka terhadap kegiatan dari pihak luar, namun kami melihat belum ada program internal yang konsisten. Padahal masalah adiksi game sudah cukup jelas berdampak pada keseharian siswa,” ungkap mahasiswa Annisa Kamal.

Melalui kegiatan psikoedukasi, siswa diberikan pemahaman mengenai dampak buruk dari kecanduan game dan pentingnya manajemen waktu serta pengembangan minat yang lebih sehat. Mahasiswa juga merekomendasikan beberapa strategi untuk diterapkan pihak sekolah, seperti:
• Integrasi program literasi digital dan psikoedukasi dalam bimbingan konseling,
• Pelatihan guru untuk mendeteksi perilaku adiktif,
• Pembentukan kegiatan alternatif seperti klub e-sport sehat, coding, atau kegiatan berbasis tim,
• Keterlibatan aktif orang tua dalam mengawasi penggunaan teknologi di rumah,
• Monitoring dan evaluasi berkala terhadap perilaku siswa.

Meskipun jumlah siswa laki-laki relatif kecil, dinamika sosial yang solid dalam kelompok mereka sebenarnya dapat menjadi kekuatan jika diarahkan secara positif. Dengan penyediaan wadah aktivitas yang sesuai minat, sekolah dapat mengubah kebiasaan negatif menjadi peluang pengembangan karakter dan kreativitas.

Kasus ini menunjukkan bahwa permasalahan adiksi pada siswa bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan erat dengan dinamika sosial dan lingkungan pendidikan. Sekolah sebagai institusi formal memiliki tanggung jawab besar untuk menyediakan ruang pembinaan yang sehat, sistematis, dan adaptif terhadap tantangan zaman.


Oleh: Mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling
Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Bangkit Jauhari