Cilacap – Rabu, 10 – 6 – 2026. Upaya membangun sumber daya manusia yang unggul secara intelektual sekaligus matang secara spiritual terus dilakukan Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap bersama Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) dan Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf yang berlangsung di Kampus INSIMA Majenang, kedua institusi kembali meneguhkan komitmen untuk mengembangkan model pendampingan yang berorientasi pada penguatan karakter dan kesadaran diri.

Program yang telah mulai dirintis sejak tahun 2025 tersebut kini memasuki fase pengembangan yang lebih luas. Selain penyempurnaan konsep dan modul pembelajaran, tahun 2026 menjadi momentum untuk memperluas implementasi program, memperkuat kerja sama antarlembaga, serta menghasilkan berbagai luaran akademik seperti publikasi ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Kegiatan ini dihadiri Kepala LPPM UNUGHA Cilacap, (H. Fahrur Rozi, M.Hum.), yang didampingi oleh Kepala Pusat Penelitian, (Moh. Ridwan, M.Sos.), Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, (Dr. A. Adibudin Al Halim, M.Pd.I.), Kepala Pusat Studi Gender (Umi Fadilah, M.Si.), dan Staff LPPM UNUGHA Cilacap, (Zakiyatussolihah, S.Pt.). Acara dibuka secara resmi oleh Rektor INSIMA, Dr. H. Masngudi, M.E.I. Sementara itu, Dr. Heri Santoso, M.Hum., dosen Fakultas Filsafat UGM yang juga menjadi penggagas Coaching Membangun Jiwa Merdeka, hadir sebagai pemateri utama dengan Ahmad Maliki, M.Hum. sebagai moderator.

Peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Selama pelaksanaan, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga diajak memasuki proses refleksi mendalam melalui praktik coaching, simulasi, sesi berbagi pengalaman, hingga penguatan kesadaran diri.

Metode penyampaian yang interaktif membuat suasana pelatihan berlangsung hidup dan penuh keterlibatan. Beragam aktivitas seperti permainan edukatif, kuis, refleksi spiritual, dan praktik coaching kelompok mampu mendorong peserta aktif berpartisipasi. Dalam beberapa sesi, suasana bahkan berubah menjadi sangat emosional ketika peserta diajak menelusuri pengalaman hidup dan melakukan perenungan terhadap perjalanan diri mereka.

Berbagai kesan positif muncul dari peserta. Salah seorang pimpinan perguruan tinggi mengaku memperoleh pengalaman yang sangat berharga selama mengikuti coaching tersebut. Ia menyampaikan bahwa proses refleksi yang dijalani membuat dirinya lebih menyadari pentingnya kerendahan hati serta mengurangi kecenderungan untuk membanggakan diri.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh peserta dari kalangan dosen. Salah seorang dosen perempuan mengungkapkan bahwa sesi perenungan membantunya merasakan kedekatan spiritual yang lebih mendalam dengan Allah SWT. Ia juga mengaku memperoleh ketenangan batin yang sebelumnya sulit dirasakan dalam aktivitas sehari-hari.

Kepala LPPM UNUGHA, H. Fahrur Rozi, M.Hum., menjelaskan bahwa Coaching Membangun Jiwa Merdeka menawarkan pendekatan yang berbeda dibandingkan berbagai metode pengembangan diri yang berkembang saat ini. Menurutnya, program ini berakar pada nilai-nilai spiritual Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, Al-Fatihah, Asmaul Husna, dan hati nurani manusia sehingga mampu menyentuh aspek terdalam kesadaran seseorang.

Sebagai bentuk penguatan sinergi, pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara INSIMA Majenang, LPPM UNUGHA Cilacap, dan Fakultas Filsafat UGM. Kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi pengembangan program melalui bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta perluasan jejaring akademik.

Pasca pelaksanaan di INSIMA Majenang, program ini direncanakan akan dilanjutkan kepada mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNUGHA. Selain itu, jejaring implementasi juga akan diperluas ke UIN Imam Bonjol Padang pada Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat validasi dan pengembangan model Coaching Membangun Jiwa Merdeka di berbagai lingkungan perguruan tinggi.

Kolaborasi berkelanjutan antara UNUGHA, UGM, dan berbagai mitra strategis diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam kapasitas akademik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kemampuan reflektif, serta kemandirian dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Pada sesi penutup, narasumber meminta peserta mengevaluasi manfaat yang diperoleh selama kegiatan berlangsung. Respons yang muncul menunjukkan antusiasme tinggi, ditandai dengan hampir seluruh peserta menyatakan merasakan dampak positif dari proses coaching yang dijalani. Tidak sedikit pula yang berharap program ini dapat berlanjut dalam bentuk pendampingan yang lebih personal dan berkesinambungan. selanjutnya dilakukan foto bersama untuk dokumentasi kegiatan.

Publish : Bag Humas dan Publikasi
Editor : Bangkit Jauhari, S.Kom