Sebagai manifestasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap menerjemahkan gagasan akademis menjadi aksi konkret di lapangan. Melalui tim dari Himpunan Mahasiswa Informatika (Himafortic), universitas ini menginisiasi sebuah riset terapan untuk menjawab tantangan produktivitas dan resiliensi iklim yang dihadapi petani bawang merah di Desa Karanganyar, Kecamatan Adipala.

Inisiatif yang berhasil meraih pendanaan kompetitif nasional melalui program PPK Ormawa Kemendikti Saintek ini bukan sekadar kegiatan pengabdian masyarakat biasa. Ini adalah sebuah upaya diseminasi dan validasi purwarupa teknologi smart farming yang dirancang untuk menciptakan ekosistem pertanian presisi di tingkat akar rumput.

Fokus intervensi teknologi terbagi menjadi dua pilar utama. Pertama, mitigasi risiko gagal panen pada fase persemaian melalui introduksi greenhouse terkontrol. Kedua, optimalisasi efisiensi sumber daya air dan tenaga kerja melalui sistem irigasi otomatis berbasis Internet of Things (IoT), yang ditenagai oleh energi surya terbarukan.

“Konsep kami adalah mentransformasi praktik pertanian reaktif menjadi proaktif. Sistem ini memungkinkan petani mengambil keputusan berdasarkan data kelembaban tanah yang akurat, bukan lagi berdasarkan intuisi atau jadwal konvensional,” jelas seorang anggota tim Himafortic dalam forum diseminasi awal. Dialektika Antara Teori dan Empiris.

Forum yang digelar di balai desa tersebut sontak menjadi ruang dialektika yang produktif. Di satu sisi, mahasiswa memaparkan kerangka kerja logis dan kecanggihan teknologi. Di sisi lain, para petani sebagai maestro lahan dengan pengetahuan empiris puluhan tahun mengajukan uji materi yang tajam dan fundamental.

“Validasi teknis Anda di laboratorium mungkin berhasil. Namun, bagaimana reliabilitas alat ini dihadapkan pada variabilitas tanah kami, serangan hama, atau bahkan risiko keamanan siber? Siapa yang menjamin keberlanjutan suku cadang dan aspek pembiayaannya?” tanya seorang petani senior, merepresentasikan pandangan pragmatis komunitas.

Menanggapi pertanyaan krusial tersebut, Dosen Pembimbing tim, Safiq Rosad, S.T., M.Kom, memposisikan proyek ini dalam kerangka riset yang transparan. “Perlu kami tegaskan, ini bukan peluncuran produk komersial. Ini adalah fase uji lapangan dari sebuah purwarupa. Justru semua pertanyaan, kegagalan sensor, dan potensi kendala yang Bapak sebutkan adalah output riset yang paling kami cari. Data empiris dari lahan Karanganyar inilah yang akan menjadi dasar untuk iterasi dan penyempurnaan model teknologi kami selanjutnya,” papar Safiq.

Laboratorium Terbuka dan Dampak Intelektual.

Dengan demikian, proyek ini memposisikan Desa Karanganyar sebagai laboratorium terbuka. Sebuah model di mana perguruan tinggi tidak lagi menjadi menara gading, melainkan mitra strategis dalam pembangunan regional. Keberhasilan program ini tidak hanya akan diukur dari peningkatan hasil panen, tetapi juga dari kekayaan data yang terkumpul untuk kajian akademis lebih lanjut.

Inisiatif yang diinisiasi oleh mahasiswa Himafortic UNUGHA Cilacap ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai agen perubahan. Laboratorium riset kini diperluas hingga ke pematang sawah, dan signifikansinya tidak hanya akan terpatri dalam jurnal ilmiah, tetapi juga dalam tumbuhnya harapan dan produktivitas masyarakat petani.




Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Arief Septyady