Baturraden, 13 Juni 2025 – Sebanyak 22 mahasiswa program studi Bimbingan Konseling (BK) Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap menggelar kunjungan studi lapangan yang sarat makna ke Sentra Satria Baturraden. Kegiatan ini menjadi bagian krusial dari mata kuliah Asesmen Adiksi, bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang rehabilitasi NAPZA, profil penerima manfaat, dan praktik langsung layanan konseling.

Rombongan tiba di Sentra Satria Baturraden pada pukul 09.30 WIB dan disambut hangat oleh Bapak Darmanto, S.ST., M.Si., Kepala Sentra Satria Baturraden, beserta jajaran tenaga kesehatan (nakes) yang berdedikasi. Suasana kekeluargaan dan profesionalisme langsung terasa, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari kedua belah pihak. Bapak Darmanto, dalam sambutannya, memberikan gambaran komprehensif tentang layanan-layanan unggulan Sentra Satria Baturraden, termasuk program Sekolah Rakyat (SR) yang menunjukkan pendekatan inovatif dalam rehabilitasi. Beliau menutup sambutannya dengan sebuah pesan yang mendalam dan memprovokasi pemikiran: “Sama-sama manusia jangan gampang mendikte atau mendogma.” Pesan ini menegaskan pentingnya pendekatan humanis dan tanpa penghakiman dalam berinteraksi dengan individu yang berjuang melawan adiksi.

Sementara itu, Bapak Azis Wahyono, M.Sos, dosen pengampu mata kuliah Asesmen Adiksi UNUGHA Cilacap, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dan kesempatan berharga yang diberikan Sentra Satria Baturraden kepada mahasiswa. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini adalah jembatan penting antara teori di bangku kuliah dan praktik nyata di lapangan. Setelah sambutan, kedua belah pihak secara simbolis melakukan penyerahan cinderamata, menandai dimulainya kolaborasi edukatif ini.

Sesi selanjutnya adalah mini seminar yang menghadirkan tiga narasumber ahli, memperkaya wawasan mahasiswa secara signifikan.

Yang pertama, Bu Okki Raditya, Perawat Sentra Satria Baturraden, memaparkan materi yang sangat relevan tentang “Pohon Adiksi”. Beliau menjelaskan adiksi sebagai suatu penyakit kompleks yang menyerang tidak hanya psikis tetapi juga fisik. Dengan detail, Bu Okki menjelaskan bagaimana adiksi dapat merusak organ-organ tubuh manusia dalam jangka panjang, memberikan perspektif medis yang krusial bagi calon konselor.

Selanjutnya Bapak Suparya, S.ST., memberikan penjelasan mengenai “Rencana Residen ‘APS’” (Aftercare and Pre-release Support), sebuah program yang dirancang untuk mendukung penerima manfaat setelah keluar dari rehabilitasi, memastikan keberlanjutan pemulihan mereka di masyarakat.

Dan narasumber yang terakhir Bapak Rino Cahyadi Nugroho, seorang pegawai Sentra Satria Baturraden yang sangat berpengalaman, menjelaskan secara rinci tentang rancangan proses pelayanan rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan NAPZA. Pemaparannya mencakup tahapan-tahapan rehabilitasi, metode intervensi, dan pendekatan holistik yang diterapkan di Sentra Satria Baturraden.

Setelah sesi mini seminar yang informatif, mahasiswa diajak berkeliling dan diperlihatkan museum atau galeri edukasi yang dimiliki oleh Sentra Satria Baturraden. Galeri ini sangat interaktif dan visual, menampilkan representasi “Pohon Adiksi” dan “Pohon Sehat”, menunjukkan kontras antara dampak negatif adiksi dan potensi kehidupan sehat.

Yang menarik, galeri ini juga memamerkan berbagai jenis obat-obatan terlarang dan botol minuman beralkohol, serta reklame edukatif yang menggambarkan dampak mengerikan NAPZA terhadap tubuh manusia. Ini menjadi pengingat visual yang kuat tentang bahaya adiksi.

Kunjungan ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat langsung Penerima Manfaat (PM) atau Konseli yang sedang menjalani rehabilitasi. Sentra Satria Baturraden memiliki fasilitas yang sangat mendukung proses pemulihan para PM.

Salah satu bukti nyata keberhasilan dan kualitas layanan di Sentra Satria Baturraden terlihat dari fakta bahwa beberapa staf yang kini bekerja di kafe sentra adalah individu yang dahulunya merupakan pengguna obat-obatan terlarang. Ini menunjukkan bahwa Sentra Satria Baturraden tidak hanya merehabilitasi, tetapi juga memberikan kesempatan kedua dan memfasilitasi reintegrasi sosial yang sukses. Banyak lagi kisah inspiratif dari PM atau konseli yang berhasil sembuh dan kembali hidup normal berkat fasilitas dan dukungan dari sentra ini.

Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan teoretis mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan empati dan keterampilan praktis yang esensial bagi calon konselor. Dengan melihat langsung proses layanan dan berinterinteraksi dengan para profesional di lapangan, mahasiswa mendapatkan gambaran nyata mengenai kompleksitas dan urgensi penanganan masalah NAPZA di masyarakat. Kunjungan ini juga membuka pintu bagi potensi kolaborasi lebih lanjut antara UNUGHA Cilacap dan Sentra Satria Baturraden, dalam upaya bersama mewujudkan masyarakat yang sehat dan bebas dari jerat adiksi.



Oleh: Mahasiswa Program Studi BK
Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Bangkit Jauhari