Dalam upaya memperkuat karakter dan spiritualitas dalam dunia pendidikan, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Penyiapan Modul Training dan Coaching: Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf”. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 11 Juni 2025 di lantai satu ruang workshop Kampus UNUGHA Cilacap.

Lokakarya tersebut menjadi wahana penting untuk mempertemukan akademisi dan praktisi dari dua lembaga pendidikan yang memiliki latar belakang keilmuan yang saling melengkapi. Delegasi dari Fakultas Filsafat UGM dipimpin oleh Drs. Imam Wahyudi, M.Hum., bersama dua narasumber utama yakni Dr. Abdul Malik Usman dan Dr. Heri Santoso. Dari pihak UNUGHA, hadir KH. Lubbul Umam, ME., sebagai tuan rumah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin dan Ketua BPP UNUGHA, serta Kiai Sudirwan, S.Ag., M.H, (Dosen FKI UNUGHA Cilacap) sebagai pemantik dialog ilmiah.

Fahrur Rozi, M.Hum, selaku Kepala LP2M UNUGHA Cilacap, memberikan sambutan dan beliau menegaskan bahwa kerja sama ini lahir dari relasi yang sudah terbangun erat antara UGM dan UNUGHA Cilacap. Menurutnya, lokakarya ini menjadi bentuk nyata dari dedikasi akademik untuk menghidupkan nilai-nilai etis dan spiritual dalam sistem pendidikan nasional.

Dalam sesi pemaparan utama, Dr. Heri Santoso mengangkat isu krusial pasca pandemi COVID-19 yakni menurunnya kualitas karakter di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ia mengajak seluruh tenaga pendidik untuk memikirkan pendekatan baru dalam pendidikan karakter, salah satunya melalui integrasi filsafat dan tasawuf dalam metode coaching.

Ia menekankan bahwa coaching memiliki perbedaan mendasar dengan mentoring dan konseling. Coaching lebih menekankan pada eksplorasi potensi dari dalam diri individu (coachee), tanpa memberikan arahan langsung. Dengan kata lain, proses coaching memberdayakan peserta untuk menemukan jawaban dari permasalahan mereka secara mandiri.

“Seorang coach bukanlah pemberi nasihat, melainkan pendamping yang sabar, empatik, dan mampu menjadi pendengar aktif,” tutur Heri. Menurutnya, pendekatan ini relevan diterapkan oleh guru dan dosen dalam mendampingi peserta didik menghadapi tantangan zaman.

Lokakarya diikuti oleh 14 peserta yang semuanya merupakan akademisi dan praktisi dari beragam disiplin ilmu. Diskusi berjalan dinamis, dengan fokus pada pemikiran tasawuf Imam al-Ghazali yang menjadi inspirasi nilai spiritual UNUGHA Cilacap. Para peserta juga membedah peran tasawuf dalam membentuk pribadi merdeka dan beretika.

Rangkaian diskusi menghasilkan rumusan awal modul pelatihan dan coaching yang dirancang untuk membangun karakter pendidikan berbasis filsafat dan spiritualitas. Modul ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para pendidik dalam menerapkan metode coaching yang berakar dari kearifan lokal dan spiritual.

selanjutnya diharapkan dari Kegiatan ini bisa menunjukkan bahwa integrasi antara filsafat dan tasawuf tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga mampu diimplementasikan secara praktis dalam pembentukan karakter manusia merdeka yang berjiwa luhur. Sebagai penutup kegiatan, dilakukan sesi seremonial pertukaran cinderamata sebagai simbol kolaborasi berkelanjutan antara UGM dan UNUGHA Cilacap. Acara ditutup dengan foto bersama sebagai dokumentasi kebersamaan dan semangat kolaborasi antar dua institusi.


Publish: Humas & Publikasi UNUGHA Cilacap
Editor: Arief Septyady