Etika berkomunikasi antara mahasiswa dengan dosen

Etika berkomunikasi antara mahasiswa dengan dosen, khususnya komunikasi melalui media elektronik, tengah mendapat sorotan belakangan ini. Beberapa universitas terkemuka di Indonesia sampai merasa perlu mengeluarkan peraturan atau himbauan tentang tata cara komunikasi yang baik antara mahasiswa dengan dosen melalui smartphone atau perangkat elektronik lainnya.

Terbitnya peraturan dan himbauan ini didorong oleh keluhan-keluhan dari dosen tentang banyaknya komunikasi dari mahasiswa via telepon, SMS, email, sampai pesan instan seperti Whatsapp, Line, dsb., yang kurang beretika. Ada gap yang cukup besar antara dosen dengan mahasiswa dalam memandang etika komunikasi. Perbedaan generasi, disebut-sebut menjadi alasan terciptanya kesenjangan komunikasi tersebut.

Para dosen yang umumnya merupakan Generasi Baby-Boomer (lahir antara tahun 1940an-1960an) dan Generasi X (lahir 1960an — 1980an), memiliki standar yang berbeda dengan mahasiswa yang merupakan Generasi Milenial (lahir 1980an — 2000an) dalam hal etika komunikasi. Sesuatu yang dipandang tidak elok atau tidak sopan oleh dosen, sering kali dianggap hal yang biasa di mata mahasiswa.

Berikut ini beberapa contoh tipe pesan dari mahasiswa, yang dirasa kurang beretika oleh dosen.

Tipe Tanpa Identitas

Tanpa Identitas. Sumberbubblear.com

“Bu, ibu ada di mana sekarang? Hari ini ke kampus gak bu?”

“Bapak ada di mana???? Ditunggu di kelas xxx sekarang”

“Pak posisi dimana? saya sudah di kampus dari tadi”

“bu kamel, untuk materi kuliah xxx ada dimana?”

Beberapa contoh di atas merupakan contoh pesan tanpa identitas dari mahasiswa kepada dosen. Setiap dosen mungkin berurusan dengan ratusan mahasiswa setiap harinya dan tidak menyimpan nomor kontak seluruh mahasiswa. Apa dampaknya jika mahasiswa tidak memberitahu identitasnya kepada dosen? Simaklah percakapan dibawah ini:

Mahasiswa : “ibu, saya mau ketemu”

Dosen : “maaf, ini siapa ya?”

Mahasiswa : “saya budi”

Dosen : “budi yang mana ya?

Mahasiswa : “saya budi mahasiswa ibu”

Dosen : “budi gunawan?”

Mahasiswa : “bukan…, budi setiawan, mahasiswa IF A bu”

Dosen : “Oh, ada keperluan apa ya Mas Budi?”

Mahasiswa : “Saya mau menanyakan tentang nilai saya yang masih T bu…”

Dosen : “Nilai mata kuliah apa? Saya kan ngajar 3 mata kuliah di kelas Anda”

Mahasiswa : “Mata kuliah kalkulus bu..”

Dosen : “OK Mas Budi, siang ini jam 1 temui saya di ruangan saya, nanti saya perlihatkan rincian nilainya”

Mahasiswa : “waduh, siang ini saya ada ujian susulan bu. nanti sore aja gimana bu?”

Dosen : “baik Mas, nanti jam 4 sore di ruangan saya”

Mahasiswa : “Oke makasih bu..”

Jika mahasiswa hanya menuliskan “ibu, saya mau ketemu”, dosen tentu bingung ini pesan dari siapa, karena identitasnya tidak jelas. Dari tukang kredit? petugas asuransi? sales buku? kolega bisnis? atau mahasiswa? Maksudnya juga tidak jelas, mau ketemu untuk apa?

Bayangkan, berapa banyak waktu dosen yang terbuang hanya untuk melayani pesan seperti ini. Ini baru satu orang, bagaimana jika puluhan mahasiswa mengirim pesan seperti ini setiap hari?

Bandingkan dengan contoh di bawah ini:

Mahasiswa : “Selamat pagi Bu Siti, saya Budi Setiawan, mahasiswa Ibu kelas IF A 2016. Saya bermaksud menemui Ibu untuk menanyakan tentang nilai saya di mata kuliah Kalkulus yang masih T. Apakah sore ini saya bisa menemui Ibu?”

Dosen : “OK Mas Budi, sore ini jam 4 temui saya di ruangan saya”

Mahasiswa : “baik Bu, terima kasih banyak atas waktunya”

Jika pesannya mencantumkan identitas dan maksud yang jelas, dosen cukup membalas pesan dengan singkat, dan semua selesai tanpa menyita banyak waktu.

Tipe Memerintah

Memerintah. Sumberinemmo.com

“Bu, saya agus dari kelas 2c. Boleh minta slide kuliah gak bu? Kirimin via gmail aja ya bu, kita butuh buat belajar nih, makasih…”

“Bu. Nilai mata kuliah Fisika saya belum keluar di SIMAK. Dosennya sudah di hubungi oleh ibu belum? Soalnya saya hubungi tidak respon buu..”

“kalo misal nilainya keluar terus yang nginput ibu bisa tidak bu”

“bu…., tolong dikoreksi ya bu, saya pengen cepat lulus”

Dosen adalah pendidik yang menyampaikan berbagai ilmu pengetahuan kepada mahasiswa. Di samping itu, dosen pada umumnya lebih tua dari mahasiswa, sehingga komunikasi dengan tipe memerintah sangat tidak beretika. Jika membutuhkan sesuatu, mahasiswa bisa memintanya dengan gaya bahasa yang lebih sopan. misalkan:

“Bu, saya agus dari kelas 2c. saya membutuhkan slide mata kuliah Biologi untuk bahan belajar, dimana saya bisa mendapatkannya Bu?”

Tipe Alay

Bahasa Alay. Sumberputrasubuh.files.wordpress.com

“SoRe bu..ApA be5ok 4da kul!ah Ga’ ea?”

“Oowh gitchu ya buk…., mu u cih bingits ya buk….”

Bagi mahasiswa, tulisan 4L4y mungkin lucu dan menarik, tapi bagi dosen, tentu butuh waktu khusus untuk mencerna tulisan ‘aneh’ tersebut. Yang lebih mendasar lagi, tulisan alay menunjukkan kesan tidak adanya rasa hormat dari mahasiswa kepada dosen. Tulisan seperti itu bersifat informal, tidak selayaknya disampaikan dalam komunikasi dengan dosen. Gunakanlah bahasa yang baik dan benar.

Tipe ‘Sok Penting’

‘Sok Penting’. Sumberimages.law.com

“Bu, bimbingannya ndak jadi hari ini karena saya ada acara keluar. Besok saja jam 9. Trims”

“Bu, ini saya masih ngeprint, tunggu yaa…”

“Wah pagi saya nggak bisa e bu, Sore aja ya bu?”

Jika mahasiswa saja memiliki banyak kesibukan sehingga harus mengatur ulang jadwal pertemuan, apalagi dosen. Dosen biasanya mengajar beberapa mata kuliah di beberapa kelas yang berbeda. Dosen juga menangani banyak mahasiswa bimbingan, ada yang sampai puluhan. Belum lagi kewajiban penelitian dan pengabdian masyarakat yang cukup menguras pikiran dan waktu. Beberapa dosen bahkan sering kali harus mengisi seminar, pelatihan, kuliah umum di berbagai tempat. Jika dosen tersebut menjabat di struktur kampus sebagai Ketua Program Studi, Dekan, Ketua LPPM, dsb., kesibukannya semakin bertambah lagi.

Jadwal kegiatan dosen sangat padat. Jadi jika ingin menjadwal ulang pertemuan dengan dosen, sebaiknya mahasiswa menyesuaikan dengan jadwal dosen, bukan dosen yang harus menyesuaikan jadwal mahasiswa. Bahasa yang digunakan juga harus dijaga, jangan bergaya ‘sok penting’, sehingga bisa menimbulkan kesan bahwa dosen yang butuh mahasiswa.

Tipe Tidak Tahu Waktu

Tidak Tahu Waktu. Sumbercdn.yourstory.com

Banyak dosen yang mengeluhkan mendapatkan pesan, bahkan telepon dari mahasiswa di tengah malam. Dengan begitu padatnya kegiatan dosen, waktu istirahat adalah waktu yang sangat berharga. Menghubungi dosen di waktu istirahat bukan hanya tidak beretika, tapi tidak manusiawi. Karena menghubungi siapa pun tidak pantas dilakukan di tengah malam, kecuali untuk keadaan yang sangat darurat.

Keadaan darurat ini perlu didefinisikan juga dengan baik. Ada mahasiswa yang merasa bahwa “nilai mata kuliah dia yang belum keluar” adalah hal darurat, sehingga dia merasa berhak menanyakannya kapan saja. Keadaan darurat adalah suatu keadaan yang mengharuskan respons langsung saat itu juga, dan jika tidak dilakukan respons maka akan terjadi hal yang lebih parah lagi. Jadi, pilihlah waktu yang tepat untuk menghubungi dosen, misalnya, pada saat jam kerja ketika dosen ada di kampus.